Dr. Mulyadi Kenang Jejak Akademik Moh. Mashur Abadi: Integrasi Keislaman dan Filosofi Madura Menjadi Legasi Penting bagi MTBI UIN Madura
- Diposting Oleh Admin Magister PBI
- Senin, 28 September 2026
- Dilihat 124 Kali
Pamekasan, 28 September 2026 — Salah satu dosen Magister Tadris Bahasa Inggris (MTBI) UIN Madura, Dr. Mulyadi, S.S., M.Pd., menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Penguatan Literasi Akademik melalui Penulisan Buku dan Bedah Buku “Jejak Menyala Moh. Mashur Abadi” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Madura di Aula Perpustakaan UIN Madura.
Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik sekaligus reflektif untuk mengenang pemikiran dan pengabdian almarhum Drs. Moh. Mashur Abadi, M.Fil.I., salah satu dosen senior Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Madura yang telah memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan pendidikan bahasa dan pemikiran akademik di lingkungan kampus.
Dalam pemaparannya, Dr. Mulyadi mengisahkan bahwa perjalanan akademiknya bersama almarhum Moh. Mashur Abadi telah dimulai sejak keduanya terlibat dalam Unit Pengembangan Bahasa. Pada masa tersebut, almarhum merupakan salah satu figur yang memunculkan gagasan tentang pentingnya pengembangan kemampuan bahasa asing mahasiswa secara lebih sistematis.
Salah satu gagasan awal tersebut diwujudkan melalui program English Day dan Yaumul Arab sekitar tahun 1999. Program tersebut kemudian berkembang dan menjadi salah satu cikal bakal pengembangan program bahasa asing di UIN Madura, yang pada perkembangannya dikenal melalui Foreign Language Development Program (FLDP).
Bagi Dr. Mulyadi, kontribusi Moh. Mashur Abadi tidak berhenti pada pengembangan program bahasa. Salah satu legasi pemikiran yang dinilai sangat penting adalah gagasan tentang perlunya memberikan identitas keislaman yang kuat dalam penyelenggaraan Tadris Bahasa Inggris.
Almarhum secara konsisten mengingatkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan perguruan tinggi Islam tidak seharusnya terpisah dari nilai dan sumber keislaman. Integrasi tersebut dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti penggunaan nama-nama Muslim dalam contoh kalimat dan bahan ajar, hingga praktik akademik yang lebih substantif.
Menurut Dr. Mulyadi, almarhum juga mendorong penggunaan Al-Qur’an dan Hadis sebagai salah satu sumber nilai dan perspektif dalam penulisan karya ilmiah mahasiswa, termasuk skripsi, tesis, dan tugas akhir. Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak hanya mengembangkan kompetensi bahasa dan akademik, tetapi juga belajar membaca persoalan pendidikan melalui perspektif keilmuan yang terintegrasi dengan nilai Islam.
Semangat integrasi tersebut juga tercermin dalam pemilihan materi pembelajaran. Mahasiswa, misalnya, dapat diarahkan untuk mengkaji lagu, puisi, cerita, maupun karya sastra yang memiliki nilai dan pesan keislaman, tidak semata-mata menjadikan karya sastra berbahasa Inggris sebagai objek pembelajaran tanpa mempertimbangkan konteks nilai yang dibangun di dalamnya.
Dari Madurologi menuju Taneyan Lanjhang dan Asta Helix
Dalam perkembangan pemikirannya, jejak intelektual Moh. Mashur Abadi juga bergerak semakin kuat menuju penggalian identitas dan kearifan lokal Madura. Setelah mengembangkan gagasan Madurologi, pada periode berikutnya beliau juga menjadi salah satu penggagas filosofi Taneyan Lanjhang dan Asta Helix sebagai kerangka nilai yang dapat digunakan untuk membaca dan mengembangkan identitas kelembagaan UIN Madura.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pemikiran almarhum tidak berhenti pada integrasi antara bahasa Inggris dan nilai-nilai keislaman. Ia juga menempatkan kebudayaan Madura sebagai sumber pengetahuan, nilai, dan inspirasi akademik. Taneyan Lanjhang tidak semata-mata dipandang sebagai bentuk permukiman tradisional masyarakat Madura, tetapi dapat dibaca sebagai filosofi mengenai relasi, kebersamaan, tanggung jawab, pendidikan, dan kehidupan komunitas.
Melalui pengembangan Asta Helix, nilai-nilai lokal tersebut kemudian memiliki ruang yang lebih luas untuk dihubungkan dengan pendidikan, keislaman, pengembangan ilmu pengetahuan, masyarakat, teknologi, dan berbagai dimensi kehidupan akademik. Dengan demikian, gagasan Madurologi, Taneyan Lanjhang, dan Asta Helix dapat dipahami sebagai bagian dari perkembangan pemikiran yang berupaya mempertemukan Islam, keilmuan modern, dan kearifan lokal Madura.
Bagi MTBI UIN Madura, warisan pemikiran tersebut mempunyai relevansi yang sangat kuat. Pada jenjang magister, integrasi keislaman tidak cukup hadir sebagai simbol atau tambahan dalam pembelajaran, tetapi perlu dikembangkan menjadi perspektif akademik yang lebih kritis dan substantif dalam penelitian, pengembangan kurikulum, bahan ajar, asesmen, serta inovasi pembelajaran bahasa Inggris.
Pada saat yang sama, filosofi Taneyan Lanjhang dan Asta Helix dapat menjadi landasan untuk mengembangkan pendidikan bahasa Inggris yang tetap terbuka terhadap perkembangan global, teknologi, dan ilmu pengetahuan, tetapi tidak kehilangan akar kultural dan identitas lokalnya. Dalam konteks inilah MTBI UIN Madura dapat meneruskan legasi intelektual tersebut dalam bentuk yang lebih sistematis, berbasis penelitian, dan sesuai dengan karakter pendidikan pada jenjang magister.
Warisan pemikiran Moh. Mashur Abadi dengan demikian dapat menjadi salah satu pijakan historis bagi pengembangan identitas akademik MTBI UIN Madura. Gagasan yang dahulu tumbuh dari Tadris Bahasa Inggris, pengembangan bahasa asing, integrasi Islam, hingga pemikiran mengenai Madurologi, Taneyan Lanjhang, dan Asta Helix dapat terus dikembangkan pada jenjang magister melalui pendekatan yang lebih konseptual dan berbasis riset.
Semangat tersebut juga sejalan dengan arah pengembangan MTBI UIN Madura yang mengintegrasikan English Language Teaching, riset, teknologi, nilai keislaman, kearifan lokal, serta tanggung jawab sosial dan ekologisdalam proses pendidikan.
Melalui kegiatan Jejak Menyala Moh. Mashur Abadi, civitas academica UIN Madura tidak hanya mengenang sosok seorang dosen senior, tetapi juga membaca kembali gagasan-gagasan yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang pengembangan pendidikan bahasa dan identitas akademik UIN Madura.
Bagi MTBI, “jejak menyala Moh. Mashur Abadi” tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan bahasa Inggris di lingkungan perguruan tinggi Islam perlu terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman, akar budaya Madura, dan orientasi akademiknya.
Semangat mengembangkan bahasa asing, mengintegrasikan nilai keislaman, serta menempatkan kearifan lokal Madura sebagai sumber pengembangan ilmu menjadi bagian penting dari warisan intelektual Moh. Mashur Abadi yang layak dilanjutkan dari Tadris Bahasa Inggris menuju Magister Tadris Bahasa Inggris UIN Madura.
ENR